Kamis, 25 September 2008

Arsenic Di Tg Uncang

Media Indonesia
Kamis, 24 Juli 2008 00:01 WIB
Mereka Cacat karena Limbah Bahan Berbahaya
RUANG pengap berukuran 3x2 meter persegi, berdinding papan, dan beratap rumbia itu menjadi tempat mengisi hari-hari Siti, 5.
Rumah yang terletak di Kampung Dalam RT 01/RW 02, Tanjunguncang, Kecamatan Sagulung, Batam, Kepulauan Riau, itu minim ventilasi. Hanya ada pintu masuk utama yang sudah reot. Ketika mendongak, puluhan lubang-lubang kecil pada atap rumbia menjadi penerang ruangan pengap tersebut.
Tampak sebungkus mi instan yang siap direbus diletakkan di tikar pandan, tempat Siti rebahan.
Karena mengalami cacat mental, gadis kecil itu terpaksa berbaring di tikar pandan. Ia ditemani ibunya, Rukiah, 45, yang sekali-kali menyapu air liur yang keluar bibir putri pertamanya tersebut.


Menurut pengakuan Rukiah, suaminya Nurdin, 46, yang mencari nafkah sebagai nelayan hanya bisa pasrah. Anaknya cacat sejak lahir.
Padahal, pasangan suami-istri itu sehat dan tidak pernah mengalami kelainan. Namun, menurut Rukiah, ketika mengandung Siti, ia sering mengonsumsi ikan yang dibawa suaminya sepulang dari laut. Ia tidak menyangka jika anak pertamanya itu cacat ketika lahir. "Ketika hamil saya rajin makan ikan, enggak tahu mengapa kok anak kami lahir begini," ujarnya kepada Media Indonesia.
Hal sama dialami Didi, 7, dan Midi, 5, tetangga Siti di kawasan perkampungan yang sama. Bahkan, masih ada ribuan anak lainnya yang cacat atau menderita karena limbah yang mengandung bahan berbahaya.
Beberapa ratus meter dari perumahan nelayan Kampung Dalam itu, tampak aktivitas galangan kapal Tanjunguncang. Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah galangan kapal di Batam bertambah banyak. Hal itu terjadi setelah Singapura tidak memperbolehkan lagi industri galangan kapal berada di negara pulau itu karena terbukti menghasilkan limbah B3.
Tidak mengherankan jika daerah yang paling dekat dengan Singapura, yakni Kepulauan Riau, menjadi salah satu alternatif untuk mengalihkan usaha galangan perkapalan tersebut.
Khusus di Batam, kawasan industri galangan kapal ada di kawasan Tanjunguncang. Padahal, kawasan itu adalah kawasan bagi para nelayan untuk mencari ikan yang kemudian disulap menjadi kawasan industri berat. Akibatnya, saat kita memasuki kawasan industri Tanjunguncang, berbagai kerusakan lingkungan dapat dilihat mata.
Kerusakan jalan, gundulnya hutan mangrove serta tergusurnya perkampungan nelayan untuk dijadikan kawasan industri dapat dilihat di kawasan itu.
Tidak itu saja, kawasan wisata Marina Batam yang berdekatan dengan Tanjunguncang melarang turis yang datang berkunjung ke tempat wisata untuk mandi di laut karena banyaknya kandungan B3 di laut sekitar Tanjunguncang.
Saat menanggapi hal itu, LSM Centrum of Independent Social Politics & Human Right Analys (Cisha) menduga kuat bahwa kecacatan yang dialami masyarakat di sekitar pesisir Pulau Batam disebabkan arsenik dan limbah B3 yang ada di daerah itu, baik yang berada di air laut, darat, maupun tanah.
Perairan Kepulauan Riau sudah lama tercemar limbah, tinggal bagaimana pemerintah mengatasi masalah itu agar tidak menimbulkan lebih banyak korban. (Benny Andriyos/N-1)

Tidak ada komentar: