Jumat, 22 Agustus 2008

Modernisasi Nelayan I

Batam sebagai kota Metropolitan merupakan hal yang tidak terbantahkan oleh masyarakat indonesia, jumlah penduduk mencapai 1 juta jiwa serta nilai investasi asing dan domestic mencapai 15,5 milyard dolar Amerika merupakan sebuah penggerak ekonomi dalam menetapkan pola modernisasi kota Batam.
Kebijakan serta terobosan pemerintah yang diimplimentasikan dalam sektor imformatika, telekomunikasi, sektor pelabuhan, galangan kapal serta sektor lainnya yang sudah mengarah ke sektor modernisasi.


Berbicara Batam tentu kita harus menghubungkan ke sektor kelautan, dengan konteks lingkungan laut, industri maritim serta nelayan sebagai sektor yang paling tua keberadaannya diBatam.

Nelayan kehidupan Kelas Dua
Konsumsi ikan di Kota Batam mencapai 300 ton/hari merupakan tingkat konsumsi yang paling minimal dilihat dari konsumsi nasional serta pola makan masyarakat Batam yang cenderung menerapkan menu ikan disetiap santapannya, dan ini belum termasuk sektor industri yang memakai bahan dasar ikan sebagai dasar produknya.
Kebutuhan akan ikan ini rasanya tidak mampu bila dipasok ribuan nelayan tradisional yang ada di Batam.
ketidak wajaran terjadi apabila kita melihat kehidupan nelayan tradisional yang menggunakan kayuh dayung serta mesin kecil ini pun bila ada, mengarungi luasnya serta jarak tempuh nelayan mencari ikan.
Keterpihakan pemerintah dalam hal ini kepada nelayan pasti ada, seperti memberikan subsidi-subsidi langsung, tetapi tidak pernah mencapai substansi masalah yaitu upgrading pola tangkap dan peralatan sesuai dengan kebutuhan pasar serta balaning dengan sektor maritim yang ada seperti shipyard & shipbuilding yang mencapai 80 perusahaan serta menggunakan wilayah tangkapan nelayan di sepanjang pantai yang ada di pulau Batam.
Kesulitan nelayan tradisional dalam memasok pasar kebutuhan ikan di wilayah batam, terkadang untuk kebutuhan konsumsi mereka saja mereka gagal menyediakan disebabkan beberapa hal seperti beralih fungsinya lahan tangkapan mereka menjadi shipyard dan perumahan seperti dikawasan Tg Uncang dan Teluk tering Nongsa, ketidaksiapan pengetahuan serta moda peralatan serta transport dalam mencari ikan diwilayah lain. dDalam hal ini penulis pernah mengajak dua orang nelayan tradisional untuk menjelajahi wilayah Belakang padang dan Pulau Petong dari Home base LSM cisha di P. Nipah jembatan Dua Barelang, saat kami ke blk Padang speed boat kami jauh menyimpang kearah pulau terong sekita 8 mil laut dari Blk Padang. begitu juga saat ke Pulau Petong kami menyimpang kearah Pulau Sebaik Tg Balai Karimun penyimpangan 8 mil laut.suatu yang tak wajar karena wilayah tujuan merupakan masih dalam kawasan pulau Batam serta mereka sudah turun temurun menjadi nelayan.Dari beberapa pengamatan serta analisa yang ada kami menilai mereka akan paham lokasi wilayah sekitar mereka saja paling jauh mereka berjalan dalam radius 4 mil laut. Sample diatas tentunya tidak berlaku bagi nelayan yang mempunyai kapal mesin.

Selasa, 19 Agustus 2008

MONITORING LINGKUNGAN PULAU LENGKANA I

Pulau Lengkana dengan luas keseluruhan 49 ha ditempuh selama 15 menit menggunakan boat dari pelabuhan Sekupang, dengan tophograpi kawasan bukit, hutan bakau, serta kawasan pantai landai. Berada di Kelurahan Tanjung Sari Kecamatan Belakang Padang Kota Batam, termasuk salah satu klasipikasi pulau terluar yang berbatasan langsung dengan negara Singapura.


Kegiatan dipulau Lengkana di fokuskan kedalam 3 (tiga) point
1. Pengamatan Lingkungan Pantai dan Hutan
2. Pendekatan presuasif terhadap pelaku perusak lingkungan, serta seluruh element masyarakat Belakang Padang
3. Pencegahan secara langsung terhadap pelaku perusakan lingkungan diPulau Lengkana.

Pengamatan lingkungan
Kegiatan ini telah dimulai pada Januari 2008 dan masih berlangsung sampai saat ini, dengan melibatkan beberapa aktivist dari beberapa LSM dengan leading sektor LSM Cisha.
Berdasrkan pengamatan kami serta analisa yang dibuat secara komprehensif kami menemukan bahwa sebahagian besar pembangunan rumah-rumah (Beton) penduduk di pulau Belakang Padang menggunakan Pasir yang ada di Pulau Lengkana dan pulau Dendang.
Pola perubahan pembangunan perumahan dari kayu menjadi rumah beton pada priode tahun 2000 s/d 2008 menimbulkan dampak kerusakan yang begitu besar nyaris meneggelamkan pulau lengkana, menurut catatan bahwa garis pantai telah bergeser kearah daratan sebanyak 40 s/d 50 meter disisi Barat, Utara dan timur Pulau lengkana.
Abrasi semangkin cepat mengikis tebing wilayah timur akibat pengambilan batu karang serta pasir yang berada di Pantai, sedangkan diwilayah utara dan barat abrasi telah menumbangkan sebanyak 50 pohon kelapa, puluhan pohon pinus serta pengikisan tebing sejauh 40 meter dari garus pantai.

Pendekatan Presuasif
Pendekatan dengan masyarakat sekitar pulau belakang padang dan pulau Babi dilakukan secara bertahap baik keunsur pemerintahan kelurahan dan kecamatan kami juga melakukan pendekatan kepada penambang motor sangkut di wilayah tempang, pulau Babi, bahwa dengan menjaga lingkungan pulau lengkana kita bisa mengambil nilai ekonomi yang cukup tinggi baik dari sektor penangkapan udang maupun pariwisata.
Pendekatan kepada keseluruhan lapisan masyarakat telah dilakukan dengan mengmbil moment World Environment Day 2008, kegiatan penanaman bakau sebanyak 600 bibit bakau melibatkan LSM BOMBB Barisan Orang Muda Bersatu Belakang Padang, LSM Gempar, Koperasi Nelayan Barelang, Kadin sampai PSK yang ada di Pulau Babi.

Pencegahan Kerusakan Lingkungan.
Kegitan patroli lingkungan dilakukan dengan berjalan kaki serta melalui jalur laut menggunakan boat LSM cisha menemukan beberap pencuri pasir yang ketangkap tangan, setelah diberi pengertian dan dicatat identitasnya kami melepaskan dengan catatan tidak mengulanginya kembali.

Hasil kerja keras
Pencegahan ini cukup mengurangi tingkat kerusakan lingkungan pulau lengkana berdasarkan pengamatan sebelumnya para perusak lingkungan bekerja siang malam untuk mengambil pasir dari pantai tidak perduli bahwa itu merusak ekosistem atau mereka memang mereka tidak tahu. Sekarang ini kami jarang sekali menemukan para pencuri pasir maupun yang menebangi bakau.