Rabu, 10 Juni 2009

Manifesto Limbah B-3 Tandai Peringatan Hari Bumi

Rabu, 22 April 2009

BATAM (Suara Karya): Peringatan Hari Bumi sedunia di Batam, Rabu (22/4) ditandai dengan manifesto rakyat tentang limbah bahan beracun dan berbahaya (B-3) sekaligus untuk menyoroti impor 3.800 ton pasir besi dari Korea.

Manifesto rakyat itu dibuat oleh Masyarakat Sagulung Korban Limbah B-3, Centrum of Independent Social Politic and Humanright Analysis (Cisha) Indonesia, Gerakan Bersama Rakyat (Gebrak), dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Batam.

Dalam manifesto (pernyataan) itu, mereka antara lain meminta Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memerintahkan Kapolri mengusut dalang impor limbah B-3 yang mencemari air tanah penduduk sekitar lokasi penumpukan di Sagulung.

Mereka mendesak Dinas Kesehatan Kota Batam segera mengecek darah warga, membiayai pemeriksaan dan pengobatan atas gangguan pada kulit dan pernafasan penduduk, dan menyediakan air layak konsumsi bagi penduduk yang menjadi korban.

Selain menyatakan mosi tidak percaya kepada Sucofindo serta Kantor Bea dan Cukai Batam atas masuknya limbah B-3 ke Batam, juga mereka mendesak Presiden RI memeriksa Menteri Perdagangan yang memberi izin impor B-3 ke Batam.

"Kami juga akan melakukan protes ke kantor kedutaan besar Korea di Jakarta," kata Uba Ingan Sigalingging ketika bersama Rizaldy Ananda dan beberapa warga Sagulung diterima Kepala Bapedalda Kota Batam Dendi Purnomo serta Kadinkes Kota Batam Mawardi Badar.

Berdasarkan SK Mendag No 58/2008 tentang Impor Limbah NonB-3, pasir besi sebagai limbah dilarang diimpor, kata Dendi menanggapi pengunjuk rasa.

Pasir besi mengandung B-3, tetapi untuk kebutuhan "sandblasting" (bahan pembersih karat) untuk industri perkapalan di Batam tetap boleh didatangkan asalkan dari dalam negeri, misalkan Aceh atau Jawa Timur.

Oleh karena itu, katanya, berdasarkan PP No 85/1999 dan PP No 18/1999 dan SK Mendag No 58/2008, limbah B-3 imporan yang kini masih di Sagulung, pada 2 Mei 2009 atau setelah 90 hari berada di Batam, harus sudah diekspor kembali ke Korea.
B-3 atau Bukan

Sejak didatangkan oleh PT Jace Oktavia Mandiri (JOM) pada awal Februari 2009, pasir besi itu masih berada di belakang kantor Kecamatan Sagulung.

Menteri Negara Lingkungan Hidup Rachmat Witoelar pada 26 Maret meminta importir mengekspor kembali pasir besi itu ke Korea karena merupakan barang terlarang untuk diimpor.

Penyidik pegawai negeri sipil Kementerian Lingkungan Hidup maupun Bapedalda Kota Batam telah meneliti dan mengindikasikan pasir besi itu mengandung B-3.

Dinkes Kota Batam telah pula meneliti dua sumber air di Sagulung dan menyatakan tidak layak dikonsumsi manusia, sedang diagonosa penyakit kulit dari contoh menunjukkan nonspesifik atau tidak dipastikan penyebabnya yang khas.

Pada 27 Maret 2009 Oce Kaligis selaku kuasa hukum PT JOM menyatakan hasil pengujian pada Laboratorium Uji Material Batan Serpong, pasir besi tersebut bukan limbah B3.

Ia menambahkan, sertifikat inspeksi dan analisis PT Sucofindo maupun dokumen LS-Nikko Copper Inc dari Korea selaku produsen pun menyatakan pasir tersebut bukan limbah B-3.

Pasir besi itu diangkut PT JOM dengan kapal MT Xing Guang 7 dari Korea dan setibanya di Pelabuhan Batuampar, Batam, 6 Februari 2009, kemudian dipindahkan ke penimbunan terbuka di belakang kantor Kecamatan Sagulung.

KLH belum mengeluarkan izin bagi PT JOM yang telah mendapat izin impor dari Departemen Perdagangan guna dipakai bahan "sandblasting" di industri galangan kapal milik Drydock World Group.

Dendi mengakui pernah mengajukan surat pengantar kepada Kementerian LH atas permohonan PT JOM untuk mengimpor pasir besi 30.000 ton per bulan dari Korea, tetapi ketika belum ada jawaban persetujuan, barang yang dimohon telah masuk ke Batam.

Tas Ramah Lingkungan

Dari Semarang ratusan mahasiswa Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Rabu (22/4) memperingati Hari Bumi dengan membagikan tas ramah lingkungan sebagai pengganti kantong plastik.

Aksi yang melibatkan sekitar 200 mahasiswa Teknik Lingkungan Undip dari seluruh angkatan mulai 2003 tersebut, dilakukan dengan membagikan tas ramah lingkungan kepada para pengunjung DP Mall Semarang yang terlihat usai berbelanja.

Koordinator aksi Michael Dwi Oktavian mengatakan pembagian tas ramah lingkungan tersebut ditujukan untuk mengimbau masyarakat agar beralih menggunakan tas ramah lingkungan. "Kami menyesalkan rendahnya tingkat kesadaran masyarakat terhadap kelestarian lingkungan, yang dibuktikan dengan tetap menggunakan kantong plastik," katanya.

Ia mengatakan upaya untuk menyadarkan masyarakat akan bahaya penggunaan kantong plastik terhadap kelangsungan kehidupan harus terus dilakukan. "Kantong plastik terbuat dari bahan yang sulit terurai, meskipun telah tertimbun di dalam tanah dalam waktu yang lama sehingga akan menimbulkan pencemaran lingkungan," katanya.

Selain itu, kantong plastik biasanya hanya digunakan untuk sekali pakai, sementara tas ramah lingkungan dapat dipakai dalam waktu yang cukup lama.

Ia mengatakan kalau penggunaan kantong plastik terus berlanjut, dapat dipastikan kondisi bumi akan mengalami kerusakan dan membahayakan generasi yang akan datang.

Disinggung tentang alasan pemilihan lokasi mal untuk membagikan tas ramah lingkungan tersebut, ia mengatakan biasanya setiap usai berbelanja, pengunjung pasti mendapatkan kantong plastik untuk tempat barang belanjaan. "Oleh karena itu, kami memiliki inisiatif untuk menukar kantong plastik dengan tas ramah lingkungan," katanya.

Ia mengatakan rata-rata pengunjung terlihat antusias dengan aksi simpatik yang mereka dilakukan sebab selain membagikan tas ramah lingkungan, pihaknya juga menggalang dukungan dengan meminta tanda tangan pengunjung mal. "Tanda tangan yang dibutuhkan cukup banyak," katanya.

"Penggalangan dukungan lewat tanda tangan kami tuangkan dalam bentuk prasasti `Save Our Earth Without Kresek`, yang mengartikan agar menyelamatkan bumi dengan menghindari pemakaian `kresek` (kantong plastik)," katanya.

Panitia aksi lain Herti Ayu Yusvalina menjelaskan tas ramah lingkungan yang dibagikan tersebut terbuat dari hasil daur ulang kain perca sehingga lebih aman untuk digunakan. "Kurang lebih ada sekitar 300 tas ramah lingkungan yang kami bagikan untuk memperingati Hari Bumi kali ini," katanya.

Aksi yang dimulai sekitar pukul 11:00-15:00 WIB tersebut, kemudian dilanjutkan dengan membagikan tas ramah lingkungan kepada para pengendara sepeda motor yang melintas di seputar monumen Tugu Muda Semarang. (Antara/Pud)

Jumat, 23 Januari 2009

TAMBAK KEPITING BAKAU JoLax GTs 40

Tambak kepiting Bakau semi modern yang kami beri nama JoLax GTs 40 dirancang dan dimodifikasi oleh tim Lsm Cisha (Centum Of Independent Social Politic&Human Right Analysis), gagasan pembuatan Tambak Kepiting Bakau yang ramah lingkungan, mudah dalam perawatan serta tahan lama dicetuskan oleh Joniman dan Laxmen (JoLax) sedang GTs diambil dari singkatan Geoshyntetic textile Tipe 40 (GTs 40).


Model tambak ini diaplikasikan ketengah-tengah masyarakat disesuaikan dengan tambak-tambak tradisional yang sudah ada, sehingga masyarakat dengan tingkatan pendidikan yang paling rendah sekalipun akan memahami gampangnya membuat tambak serta kekuatan yang mampu mencapai usia 10 tahun.

Dasar-dasar Pembuatan Tambak Kepiting Bakau Model GTs 40
Tambak Model GTs 40 diaplikasikan untuk semua kultur tanah pesisir di Propinsi Kepri, baik berupa pasir, tanah keras, batu, sampai dengan Lumpur sekalipun Tambak Model GTs 40 mampu bertahan dan dikerjakan dengan cepat.
Untuk membuat tambak Kepiting Bakau Model GTs 40 disuatu wilayah pesisir yang belum ada tambaknya sangat mudah, pemilihan lokasi lahan, meliputi, elevasi pasang surut, tingkat salinitas, pencemaran dan kerapatan pohon bakau sangat menentukan tingkat populasi dan pembesaran kepitng bakau yang akan dipelihara.

Tambak Kepiting Bakau Model GTs 40 yang masih ada bakau.
Pertama tama diukur panjang dan lebar sesuai standar benih yang akan kita pelihara, untuk ukuran 200 kepiting muda yang akan ditebar di tambak dipergunakan lahan bersih untuk isi kolam seluas10X12 meter. Dan pohon-pohon yang ada ditengah tengah kolam dibiarkan tanpa perlu ditebangi sama sekali.
Rasio yang akan dikorbankan adalah sebanyak 60 % wilayah bakau sedangkan 40% lainnya dibiarkan sebagai perlindungan dan rumah-rumah bagi kepiting muda yang dipelihara.

Geotextile dibentangkan lalu diperkuat dengan bekas pohon yang ditebang seluas dengan lebar dan panjang kolam dengan kemiringan 85 derajat lalu diisi tanah/lumpur dari dalam kolam.(lihat Gambar)

Proses pengerjaan dengan tenaga kerja 4 (empat) orang diperlukan waktu 15 s/d 20 hari kerja bila diborongkan permeter dinding tambak per meter Rp. 20.000.

Sisi sepanjang dinding tambak sebelah dalam, dibersihkan dengan lebar1,5 X sepanjang dinding kolam dengan kedalaman 40 centimeter dari surut terendah, sebagai catatan dinding kolam harus lebih tinggi 40 cm dari pasang tertinggi sehiingga pada saat surut air tetap ada di kolam sedangkan pada saat pasang dinding tambak tetap tidak dapat dilewati serta mampu menjaga agar kepiting tidak keluar.

Ramah Lingkungan.
Didalam kolam perlu dibiarkan pohon bakau serta gundukan-gundukan tanah yang alami berfungsi sebagai anti toksin serta menjaga salinitas air, fungsi lain juga sebagai media peristirahatan kepiting pada saat suhu dibawah maupun diatas normal. Sehingga kepiting yang dipelihara masih merasakan habitat yang alami walaupun terkurung.

Optimalisasi Potensi Tambak Kepiting Bakau Model Jo Lax GTs 40
Kepiting-kepiting muda dengan berat 150 gr sampai 200 gr yang dipelihara ditambak mempunyai potensi pembesaran mencapai berat 400 gr, bila dipelihara secara monoseks, target selama pemeliharaan 50 s/d 60 hari dapat tercapai.
Selanjutnya kepiting bakau tersebut ditangkap dan dipelihara kembali selama 45 hari di media isolasi dari kawat yang juga ditempatkan didalam tambak model JoLax GTs 40, hal ini berfungsi untuk intensifikasi pemberian pakan, pemeliharaan kesehatan, serta mempermudah pada saat pemanenan, dimedia isolasi ini kepiting bakau dewasa tadi ditempatkan satu persatu sehingga kemungkinan kanibalisme sesama mereka tidak terjadi dan mortalitas dapat di perkecil.
Selanjutnya saat berat kepiting mencapai berat 7 ons dalam waktu 45 hari dilakukan pemanenan.


Isi kolam yang telah kosong dikarenakan kepiting muda telah di isolasi dalam sel-sel penampungan ditambahkan kembali dengan bibit kepiting muda yang baru dengan ukuran 200gr.
Bila tambak tradisional dengan ukuran yang sama akan memanen kepiting setiap empat bulan sekali maka dengan tambak Model Jo Lax GTs 40 kita akan melakukan pemanenan setiap 2 bulan sekali.

Kamis, 22 Januari 2009

LOMPATAN KECIL MENUJU PUSAT STUDY DAN PRODUKSI KEPITING BAKAU DI PROPINSI KEPRI.




Pulau Labu-batam 20 January 2009. Panen perdana Kepiting Bakau yang dilaksanakan pada tanggal 20 Januari 2009 oleh Pusat Study &Produksi Kepiting Bakau Hang Jebat di Pulau Labu yang dihadiri ketua Kadin Kota Batam Nada faza Soraya membuat satu lompatan kecil dalam hal budidaya Kepiting Bakau di Kepri.


Munculnya sebuah gagasan dari kelompok masyarakat di Pulau Labu serta di godok oleh penelitian dan Pengembangan tim monitoring Selat Bulang dibawah koordinasi Lsm Cisha (centrum of Independent Social Politic & Human right analysis) memunculkan sebuah methode tambak yang diberi nama JoLax Gts 10.
Konsep tambak JoLax Gts 10 ini sangat berbeda dengan tambak-tambak Kepiting Bakau pola tradisional yang sudah ada, methode ini diharapkan para petambak tidak melakukan kesulitan dalam hal perawatan serta sangat ramah dengan lingkungan, selain itu biaya yang sangat dikeluarkan jauh lebih murah dari tambak-tambak Kepiting Bakau tradisional yang selama ini dibuat.

Tambak Kepiting Bakau JoLax GTs 10
Tambak jenis ini mampu bertahan dalam kurun waktu 10 tahun bila tidak ada kejadian alam yang luar biasa, penggunaan bahan Geosynthetic Textile, mampu menjaga dinding tambak tidak longsor, dan mampu menjaga dinding tambak agar tidak dilobangi Kepiting Bakau sehingga tambak ini juga tidak menggunakan jarring-jaring yang selama ini dipakai agar Kepiting Bakau yang dipilih tidak keluar dari tambak JoLax GTs 10.
Sisi lingkungan juga sangat diperhatikan dan ini dibuktikan dalam hal penggunaan kayu sebagai tiang penyangga dinding tambak, dalam pola tradisional diperlukan tiang penopang ukuran 2,5 inci sebanyak 2.000 batang untuk tambak ukuran 14X12 meter, tetapi untuk tambak JoLax GTs 10 hanya diperlukan 200 batang saja.


Pilot project tambak Kepiting Bakau di Kepri.
Pada acara panen perdana Kepiting Bakau juga diluncurkan gagasan pembentukan Hatchery (pembenihan) di Kepri dan ini disambut dan didukung oleh Kadin Dinas ,Kp2K Batam, dan dua perusahaan shipyard PT.Sentek Indonesia serta PT Pandan Bahari.
Tahap awal akan dibangun work shop serta fasilitas wadah-wadah pembenihan dari fiber glass baru dilanjutkan dengan pemurnian induk-induk sebagai wujud mendapatkan generasi kepiting bakau yang sehat dan sesuai standart untuk eksport.
Hatchery ini juga sebagai poros awal untuk mendapatkan benih kepiting bakau bagi para petambak kepiting bakau di seluruh propinsi Kepri.
Hatchery ini nantinya juga berfungsi sebagai pusat study bagi para pemuda-pemuda untuk belajar dan mengetahui seluk beluk budi daya kepiting bakau.