Greenpress : Blog Berita Lingkungan Hidup: Greenpeace Protes Penahanan Dua Aktivis Lingkungan
Sabtu, 15 Mei 2010
NELAYAN DUDUKI MT. INTAN GLORY
Selat Bulang-Batam. Senin 10 Mei 2010 pada jam 11.00 kapal tanker Intan Glory yang labuh jangkar di Selat Bulang pulau Batam diduduki nelayan karena dianggap telah merusak bubu alat perangkap ikan yang diletakkan didasar laut,
Pendudukan kapal tanker Intan glory disebabkan kapal tersebut diklaim nelayan karena merusak bubu yang mereka tanamkan didasar laut telah rusak akibat jangkar kapal yang diturunkan merusak bubu-bubu mereka.
Kami hanya minta bubu dan tali kami di kembalikan, tetapi awak kapal malah memutuskan tali yang menyangkut di jangkar kapal dan dilemparkan kelaut "Ujar Ladang" seorang nelayan suku laut yang berdiam di tg Bidek.
Selanjutnya Ladang mengatakan" Abk kapal berlaku kurang sopan karena memaki-maki nelayan yang mencoba meminta bubu mereka dikembalikan secara baik"
Kapal Tanker Intan glory yang dikepung sebanyak 70 orang nelayan menggunakan 14 perahu nelayan yang masing masing perahu dinaiki 5 orang nelayan memilih mengalah dengan menurunkan jangkar kembali untuk melakukan pembicaraan, keributan kecil sempat terjadi saat para nelayan melakukan sweeping mencari abk kapal yang melakukan penghinaan.
Derama pendudukan MT Intan Glory berlangsung dalam waktu 2 jam, Mr Alan Capten Intan Glory melakukan musyawarah dengan ketua Persatuan Pemuda Dan Nelayan Pulau-pulau Indonesia-PNPI Yosep Dias, pada musyawarah tersebut terjadi kesepakatan bahwa Intan Glory melakukan penggantian kerusakan bubu nelayan dan memecat abk kapal yang melakukan penghinaan.
Rizaldy sebagai direktur Eksekutif Lsm Cisha yang ikut dalam aksi tersebut menyatakan" sudah empat kali permasalaha serupa yang terjadi diselat bulang tahun 2010 dengan jenis dan kapal yang berbeda". Saya menilai adanya ketidak harmonisan yang terjadi antara masyarakat pesisir dengan galangan kapal dan kapal-kapal yang berlabuh disekitar tangkapan nelayan.
Tg Uncang dan selat Bualng merupakan Red Line dan cenderung terjadi gesekan atara masyarakat nelayan dengan industri galangan kapal, kulminasi telah sampai pada puncaknya, harapan kita pemerintah pusat menyiapkan ruang dan waktu terhadap masyarakat disini, karena pemda sebagai otoritas yang ada cuek saja.
Minggu, 09 Mei 2010
PNPI, kembali Temukan Limbah di Dasar Laut
Setelah sebelumnya sejumlah nelayan dikejutkan dengan banyaknya penemuan limbah di sekitar galangan kapal, kemarin, giliran Persatuan Persatuan Pemuda dan Nelayan Pulau-pulau Indonesia (PNPI) kembali menemukan sekitar ratusan ton yang diduga limbah di dasar laut. Diantara timbunan yang diduga limbah itu ada di sekitar dermaga Shipyard Drydock Pertama. Hal itu diungkapkan Yosep Dias selaku ketua PNPI.
''Limbah-limbah itu ada yang berbentuk potongan besi, kaleng cet, jumbo bag yang berisi pasir hitam,'' kata Yosep.
''Limbah-limbah itu ada yang berbentuk potongan besi, kaleng cet, jumbo bag yang berisi pasir hitam,'' kata Yosep.
Disebutkan Yosep lebih lanjut, pihaknya sudah mengumpulkan foto-foto dari limbah yang mencemari Batam tersebut. ''Kita khawatir kalau masalah ini tidak cepat ditanggapi oleh pemerintah kondisi ini akan lebih parah lagi karena sepanjang pantai galangan kapal itu sudah penuh dengan limbah,'' sambungnya.
Hal serupa juga diungkapkan, aktivis lingkungan, Rizaldy yang menyebutkan, pencemaran yang terjadi merupakan salah satu dampak dari lemahnya pengawasan dari pihak Bapedalda Batam padahal dampaknya sudah sangat dirasakan oleh masyarakat, terutama bagi nelayan.
Disinyalir, aparat-aparat yang menjaga disana sebagai salah satu upaya pengusaha untuk melindungi kasus-kasus limbah spaya tak
''Kita melihat SKPD dan Mentri lingkungan Hidup tidak proaktif menindaklanjuti kasus tersebut. Sementara aparat yang diminta oleh pengusaha galangan kapal, hanya sebagai upaya untuk menutup-nutupi kesalahan pengusaha yang membuang limbah ke dasar laut,'' tudingnya.
Rizaldy kembali menyinggung atas gencarnya sidak yang dilakukan DPRD kota Batam dari komisi III beberapa waktu lalu tidak ada tindak lanjut nya hingga sekarang, katanya. Apa tindak lanjut dari sidak yang dilakukan DPRD ke PT Drydock Pertama"Kita minta hasil dari sidak DPRD itu apa hasilnya. Aktifitas penimbunan limbah yang dilakukan perusahan tetap jalan. Namun nasib Masyarakat nelayan semakin memprihatinkan"ujar Rizaldi
Hasan, tokoh nelayan Suku laut Pulau Lingke mengakui kalau nelayan-nelayan belakangan ini kesulitan untuk mencari daerah sebagai tempat nelayan mencari ikan. ''Sudah tercemar semua, sulit untuk mencari terumbu karang yang bagus. Daerah yang selama ini menjadi andalan nelayan kini kondisinya sudah berubah drastis, karena rendahnya kesadaran pengusaha shipyard dalam mengumpulkan limbah. Menurut Yosep, karena kondisi di perairan Selat Bulang sudah memprihatinkan, ada rencana dari nelayan yang ada di sekitar Selat Bulang akan melakukan aksi besar-besaran dalam waktu dekat.
''Kalau tak ada protes dari nelayan yang terkena dampak langsung, tentu pengusaha dan pemerintah tidak memperbaiki sistem yang selama ini sangat amburadul,'' kata Yosep.
masih menurut Yosep, UU Nomor 27 mengenai pengelolaan pesisir sangat tidak berpihak ke masyarakat nelayan dan lebih menguntungkan pihak industri.
Karena merugikan nelayan ini bisa menjadi gesekan seperti yang terjadi di wilayah Tanjunguncang belakangan ini.
''Saat industri galangan kapal semakin maju dan menggunakan peralatan yang canggih, ini sangat kontras berbeda dengan kehidupan nelayan setempat yang masih mengandalkan alat tangkap tradisionil padahal daerah tangkapan mereka sudah habis. Ini bakal menimbulkan kecemburuan, padahal galangan kapal menggunakan wilayah mereka,'' kata Yosep.
Hal serupa juga diungkapkan, aktivis lingkungan, Rizaldy yang menyebutkan, pencemaran yang terjadi merupakan salah satu dampak dari lemahnya pengawasan dari pihak Bapedalda Batam padahal dampaknya sudah sangat dirasakan oleh masyarakat, terutama bagi nelayan.
Disinyalir, aparat-aparat yang menjaga disana sebagai salah satu upaya pengusaha untuk melindungi kasus-kasus limbah spaya tak
''Kita melihat SKPD dan Mentri lingkungan Hidup tidak proaktif menindaklanjuti kasus tersebut. Sementara aparat yang diminta oleh pengusaha galangan kapal, hanya sebagai upaya untuk menutup-nutupi kesalahan pengusaha yang membuang limbah ke dasar laut,'' tudingnya.
Rizaldy kembali menyinggung atas gencarnya sidak yang dilakukan DPRD kota Batam dari komisi III beberapa waktu lalu tidak ada tindak lanjut nya hingga sekarang, katanya. Apa tindak lanjut dari sidak yang dilakukan DPRD ke PT Drydock Pertama"Kita minta hasil dari sidak DPRD itu apa hasilnya. Aktifitas penimbunan limbah yang dilakukan perusahan tetap jalan. Namun nasib Masyarakat nelayan semakin memprihatinkan"ujar Rizaldi
Hasan, tokoh nelayan Suku laut Pulau Lingke mengakui kalau nelayan-nelayan belakangan ini kesulitan untuk mencari daerah sebagai tempat nelayan mencari ikan. ''Sudah tercemar semua, sulit untuk mencari terumbu karang yang bagus. Daerah yang selama ini menjadi andalan nelayan kini kondisinya sudah berubah drastis, karena rendahnya kesadaran pengusaha shipyard dalam mengumpulkan limbah. Menurut Yosep, karena kondisi di perairan Selat Bulang sudah memprihatinkan, ada rencana dari nelayan yang ada di sekitar Selat Bulang akan melakukan aksi besar-besaran dalam waktu dekat.
''Kalau tak ada protes dari nelayan yang terkena dampak langsung, tentu pengusaha dan pemerintah tidak memperbaiki sistem yang selama ini sangat amburadul,'' kata Yosep.
masih menurut Yosep, UU Nomor 27 mengenai pengelolaan pesisir sangat tidak berpihak ke masyarakat nelayan dan lebih menguntungkan pihak industri.
Karena merugikan nelayan ini bisa menjadi gesekan seperti yang terjadi di wilayah Tanjunguncang belakangan ini.
''Saat industri galangan kapal semakin maju dan menggunakan peralatan yang canggih, ini sangat kontras berbeda dengan kehidupan nelayan setempat yang masih mengandalkan alat tangkap tradisionil padahal daerah tangkapan mereka sudah habis. Ini bakal menimbulkan kecemburuan, padahal galangan kapal menggunakan wilayah mereka,'' kata Yosep.
Selasa, 06 April 2010
LATAR BELAKANG GERAKAN LSM CISHA INDONESIA&NELAYAN BATAM
Pada tanggal 2 February 2010 nelayan pulau Lingka, Kasu, Tg Bide, Bertam dan Gara bersama LSM Cisha melakukan kaloborasi penyelaman kedalam laut didepan PT ASL untuk membuktikan adanya dumping oleh industry galangan kapal.
Kerjasama ini berlanjut bahwa pencemaran dilaut Tg Uncang begitu parahnya karena itu perlu adanya advokasi dan perlindungan terhadap nelayan yang mencari besi.
Kegiatan demi kegiatan pembersihan laut di depan ASL, Naninda, dan Drydock World Pertama terus mendapat perlawanan oleh para galangan kapal karena mereka takut bahwa mereka telah melakukan pencemaran ini terbukti adanya tumpukan-tumpukan coper slag bercampur minyak didasar laut, belum lagi potongan-potongan besi yang sudah lapuk.
Puncanya saat aparat Brimob melakukan penembakan ke Nelayan di laut Drydock World Pertama rakyat mengamuk dan melaporkan hal ini ke Kapalda Kepri.
Kerjasama ini berlanjut bahwa pencemaran dilaut Tg Uncang begitu parahnya karena itu perlu adanya advokasi dan perlindungan terhadap nelayan yang mencari besi.
Kegiatan demi kegiatan pembersihan laut di depan ASL, Naninda, dan Drydock World Pertama terus mendapat perlawanan oleh para galangan kapal karena mereka takut bahwa mereka telah melakukan pencemaran ini terbukti adanya tumpukan-tumpukan coper slag bercampur minyak didasar laut, belum lagi potongan-potongan besi yang sudah lapuk.
Puncanya saat aparat Brimob melakukan penembakan ke Nelayan di laut Drydock World Pertama rakyat mengamuk dan melaporkan hal ini ke Kapalda Kepri.
Namun disaat nelayan berjuang untuk hidup mereka, muncul statment Herman alias Awang Herman di Semenanjung TV yang menyatakan dan menyamakan bahwa :
1.Para nelayan yang menyelam mengambil besi di wilayah laut perusahaan Galangan
kapal sebagai pencuri
2.Mendukung aparat untuk melakukan tindakan keras kepada nelayan .
3.Herman alias Awang Herman baik secara pribadi maupun lembaga telah melakukan pencemaran nama baik diakhir statmen terhadap Yosep dan Rizaldy sebagai orang yang menunggangi .
Dengan adanya stamen tersebut rasanya moral nelayan yang sekarang ini sudah mampu mengalih fungsikan pekerjaan sambilan mereka untuk mengambil potongan limbah dan membersihkan lingkungan di laut serta aktif memberikan informasi terhadap pencemaran, telah runtuh kembali karena mereka disamakan dengan pencuri ayam.
Rizaldy dan Yosep sebagai pribadi yang melindungi para nelayan telah dicemarkan nama baiknya serta di fitnah karena Herman alias Awang Herman telah menyebut sebagai dalang aksi pidana.
Yang benar Rizaldy sebagai pimpinan Lsm Cisha melakukan advokasi dan perlindungan agar para nelayan tetap survive dalam menyikapi perobahan alam, sedangkan Yosep sebagai pribadi yang sangat mengagumkan karena mampu membuka mata semua nelayan yang ada bahwa kondisi perubahan bentang alam yang membuat ikan semangkin tidak ada di perairan tanjung uncang.
Low End Sensitifitas Tokoh Kepri
Rendahnya sensitifitas para tokoh yang ada di Kepri termasuk para calong gubernur dan calon wakil gubernur terhadap permasalahan nelayan di Pulau Batam khususnya di Tg uncang. Mereka bergelut dalam dahaga kekuasaan terutama pasangan tertentu, sang calon gubernur sibuk mengatakan bahwa suaminya diZolimi padahal itu tidak sebanding dengan perasaan nelayan selama bertahun-tahun ditindas oleh pengusaha shipyard, aparat Brimob, Aparat TNI, Aparat KPLP maupun tokoh tokoh yang selama ini hidup atas support para pengusaha shipyard.
Para calon Gubernur dan wakilnya selama ini memanjakan para sebagian petinggi tokoh-tokoh yang ada tanpa sedikitpun melihat apa yang dia buat selama ini kepada rakyat.
Tekanan Terhadap Rakyat Berbuah Perjuangan.
“Bertahun-tahun hidup dengan sekantung kecil besi berkarat yang diambil dari laut-laut yang ada di selat Bulang Tg uncang, bertahun-tahun para nelayan hidup dibawah tekanan aparat dan pengusaha”.
Sekarang mereka bangkit, bangkit untuk hidup, bangkit untuk menyekolahkan anak-anak mereka, bangkit untuk melawan penindasan untuk bekerja mencari sesuap nasi diwilayah laut dan pantai sepanjang pulau Batam.
Apakah mereka harus ditembaki dipukuli, dihardik, diteror dengan senjata ????
Wahai aparat bersenjata jangan lukai rakyat dengan senjatamu, Jangan lukai hati rakyat dengan bentakanmu, !!!!
Wahai Pemimpin Negeri ini, jangan kau korbankan hak azazi rakyat, lingkungan, demi sebuah kata yaitu “Investor”
Apa yang akan Kami Buat
Dengan gerakan nelayan yang menimbulkan gesekan vertical dengan pengusaha dan aparat, rasanya para pengusaha melakukan perkuatan disektor penindasan dengan dalih pengamanan investor. Terbukti dengan diperkuatnya aparat Brimob dan Angkatan Laut dibeberapa lokasi Shipyard
Atas dasar itu kami bersama masyarakat pemuda dan nelayan akan melakukan aksi-aksi boikot selat bulang dengan melibatkan 250 unit pancung, sampan, pompong dengan melibatkan lebih dari 1000 jiwa masyarakat pulau-pulau terdekat.
Dengan gerakan ini kami membuka mata pemerintah pusat dan dunia bahwa satuan kerja aparat daerah tidak memperhatikan nelayan dan lingkungan serta melakukan pressure penarikan semua aparat hokum dari shipyard yang ada serta melakukan audit lingkungan terhadap mereka
1.Para nelayan yang menyelam mengambil besi di wilayah laut perusahaan Galangan
kapal sebagai pencuri
2.Mendukung aparat untuk melakukan tindakan keras kepada nelayan .
3.Herman alias Awang Herman baik secara pribadi maupun lembaga telah melakukan pencemaran nama baik diakhir statmen terhadap Yosep dan Rizaldy sebagai orang yang menunggangi .
Dengan adanya stamen tersebut rasanya moral nelayan yang sekarang ini sudah mampu mengalih fungsikan pekerjaan sambilan mereka untuk mengambil potongan limbah dan membersihkan lingkungan di laut serta aktif memberikan informasi terhadap pencemaran, telah runtuh kembali karena mereka disamakan dengan pencuri ayam.
Rizaldy dan Yosep sebagai pribadi yang melindungi para nelayan telah dicemarkan nama baiknya serta di fitnah karena Herman alias Awang Herman telah menyebut sebagai dalang aksi pidana.
Yang benar Rizaldy sebagai pimpinan Lsm Cisha melakukan advokasi dan perlindungan agar para nelayan tetap survive dalam menyikapi perobahan alam, sedangkan Yosep sebagai pribadi yang sangat mengagumkan karena mampu membuka mata semua nelayan yang ada bahwa kondisi perubahan bentang alam yang membuat ikan semangkin tidak ada di perairan tanjung uncang.
Low End Sensitifitas Tokoh Kepri
Rendahnya sensitifitas para tokoh yang ada di Kepri termasuk para calong gubernur dan calon wakil gubernur terhadap permasalahan nelayan di Pulau Batam khususnya di Tg uncang. Mereka bergelut dalam dahaga kekuasaan terutama pasangan tertentu, sang calon gubernur sibuk mengatakan bahwa suaminya diZolimi padahal itu tidak sebanding dengan perasaan nelayan selama bertahun-tahun ditindas oleh pengusaha shipyard, aparat Brimob, Aparat TNI, Aparat KPLP maupun tokoh tokoh yang selama ini hidup atas support para pengusaha shipyard.
Para calon Gubernur dan wakilnya selama ini memanjakan para sebagian petinggi tokoh-tokoh yang ada tanpa sedikitpun melihat apa yang dia buat selama ini kepada rakyat.
Tekanan Terhadap Rakyat Berbuah Perjuangan.
“Bertahun-tahun hidup dengan sekantung kecil besi berkarat yang diambil dari laut-laut yang ada di selat Bulang Tg uncang, bertahun-tahun para nelayan hidup dibawah tekanan aparat dan pengusaha”.
Sekarang mereka bangkit, bangkit untuk hidup, bangkit untuk menyekolahkan anak-anak mereka, bangkit untuk melawan penindasan untuk bekerja mencari sesuap nasi diwilayah laut dan pantai sepanjang pulau Batam.
Apakah mereka harus ditembaki dipukuli, dihardik, diteror dengan senjata ????
Wahai aparat bersenjata jangan lukai rakyat dengan senjatamu, Jangan lukai hati rakyat dengan bentakanmu, !!!!
Wahai Pemimpin Negeri ini, jangan kau korbankan hak azazi rakyat, lingkungan, demi sebuah kata yaitu “Investor”
Apa yang akan Kami Buat
Dengan gerakan nelayan yang menimbulkan gesekan vertical dengan pengusaha dan aparat, rasanya para pengusaha melakukan perkuatan disektor penindasan dengan dalih pengamanan investor. Terbukti dengan diperkuatnya aparat Brimob dan Angkatan Laut dibeberapa lokasi Shipyard
Atas dasar itu kami bersama masyarakat pemuda dan nelayan akan melakukan aksi-aksi boikot selat bulang dengan melibatkan 250 unit pancung, sampan, pompong dengan melibatkan lebih dari 1000 jiwa masyarakat pulau-pulau terdekat.
Dengan gerakan ini kami membuka mata pemerintah pusat dan dunia bahwa satuan kerja aparat daerah tidak memperhatikan nelayan dan lingkungan serta melakukan pressure penarikan semua aparat hokum dari shipyard yang ada serta melakukan audit lingkungan terhadap mereka
Langganan:
Postingan (Atom)









