''Limbah-limbah itu ada yang berbentuk potongan besi, kaleng cet, jumbo bag yang berisi pasir hitam,'' kata Yosep.
Disebutkan Yosep lebih lanjut, pihaknya sudah mengumpulkan foto-foto dari limbah yang mencemari Batam tersebut. ''Kita khawatir kalau masalah ini tidak cepat ditanggapi oleh pemerintah kondisi ini akan lebih parah lagi karena sepanjang pantai galangan kapal itu sudah penuh dengan limbah,'' sambungnya.
Hal serupa juga diungkapkan, aktivis lingkungan, Rizaldy yang menyebutkan, pencemaran yang terjadi merupakan salah satu dampak dari lemahnya pengawasan dari pihak Bapedalda Batam padahal dampaknya sudah sangat dirasakan oleh masyarakat, terutama bagi nelayan.
Disinyalir, aparat-aparat yang menjaga disana sebagai salah satu upaya pengusaha untuk melindungi kasus-kasus limbah spaya tak
''Kita melihat SKPD dan Mentri lingkungan Hidup tidak proaktif menindaklanjuti kasus tersebut. Sementara aparat yang diminta oleh pengusaha galangan kapal, hanya sebagai upaya untuk menutup-nutupi kesalahan pengusaha yang membuang limbah ke dasar laut,'' tudingnya.
Rizaldy kembali menyinggung atas gencarnya sidak yang dilakukan DPRD kota Batam dari komisi III beberapa waktu lalu tidak ada tindak lanjut nya hingga sekarang, katanya. Apa tindak lanjut dari sidak yang dilakukan DPRD ke PT Drydock Pertama"Kita minta hasil dari sidak DPRD itu apa hasilnya. Aktifitas penimbunan limbah yang dilakukan perusahan tetap jalan. Namun nasib Masyarakat nelayan semakin memprihatinkan"ujar Rizaldi
Hasan, tokoh nelayan Suku laut Pulau Lingke mengakui kalau nelayan-nelayan belakangan ini kesulitan untuk mencari daerah sebagai tempat nelayan mencari ikan. ''Sudah tercemar semua, sulit untuk mencari terumbu karang yang bagus. Daerah yang selama ini menjadi andalan nelayan kini kondisinya sudah berubah drastis, karena rendahnya kesadaran pengusaha shipyard dalam mengumpulkan limbah. Menurut Yosep, karena kondisi di perairan Selat Bulang sudah memprihatinkan, ada rencana dari nelayan yang ada di sekitar Selat Bulang akan melakukan aksi besar-besaran dalam waktu dekat.
''Kalau tak ada protes dari nelayan yang terkena dampak langsung, tentu pengusaha dan pemerintah tidak memperbaiki sistem yang selama ini sangat amburadul,'' kata Yosep.
masih menurut Yosep, UU Nomor 27 mengenai pengelolaan pesisir sangat tidak berpihak ke masyarakat nelayan dan lebih menguntungkan pihak industri.
Karena merugikan nelayan ini bisa menjadi gesekan seperti yang terjadi di wilayah Tanjunguncang belakangan ini.
''Saat industri galangan kapal semakin maju dan menggunakan peralatan yang canggih, ini sangat kontras berbeda dengan kehidupan nelayan setempat yang masih mengandalkan alat tangkap tradisionil padahal daerah tangkapan mereka sudah habis. Ini bakal menimbulkan kecemburuan, padahal galangan kapal menggunakan wilayah mereka,'' kata Yosep.
Hal serupa juga diungkapkan, aktivis lingkungan, Rizaldy yang menyebutkan, pencemaran yang terjadi merupakan salah satu dampak dari lemahnya pengawasan dari pihak Bapedalda Batam padahal dampaknya sudah sangat dirasakan oleh masyarakat, terutama bagi nelayan.
Disinyalir, aparat-aparat yang menjaga disana sebagai salah satu upaya pengusaha untuk melindungi kasus-kasus limbah spaya tak
''Kita melihat SKPD dan Mentri lingkungan Hidup tidak proaktif menindaklanjuti kasus tersebut. Sementara aparat yang diminta oleh pengusaha galangan kapal, hanya sebagai upaya untuk menutup-nutupi kesalahan pengusaha yang membuang limbah ke dasar laut,'' tudingnya.
Rizaldy kembali menyinggung atas gencarnya sidak yang dilakukan DPRD kota Batam dari komisi III beberapa waktu lalu tidak ada tindak lanjut nya hingga sekarang, katanya. Apa tindak lanjut dari sidak yang dilakukan DPRD ke PT Drydock Pertama"Kita minta hasil dari sidak DPRD itu apa hasilnya. Aktifitas penimbunan limbah yang dilakukan perusahan tetap jalan. Namun nasib Masyarakat nelayan semakin memprihatinkan"ujar Rizaldi
Hasan, tokoh nelayan Suku laut Pulau Lingke mengakui kalau nelayan-nelayan belakangan ini kesulitan untuk mencari daerah sebagai tempat nelayan mencari ikan. ''Sudah tercemar semua, sulit untuk mencari terumbu karang yang bagus. Daerah yang selama ini menjadi andalan nelayan kini kondisinya sudah berubah drastis, karena rendahnya kesadaran pengusaha shipyard dalam mengumpulkan limbah. Menurut Yosep, karena kondisi di perairan Selat Bulang sudah memprihatinkan, ada rencana dari nelayan yang ada di sekitar Selat Bulang akan melakukan aksi besar-besaran dalam waktu dekat.
''Kalau tak ada protes dari nelayan yang terkena dampak langsung, tentu pengusaha dan pemerintah tidak memperbaiki sistem yang selama ini sangat amburadul,'' kata Yosep.
masih menurut Yosep, UU Nomor 27 mengenai pengelolaan pesisir sangat tidak berpihak ke masyarakat nelayan dan lebih menguntungkan pihak industri.
Karena merugikan nelayan ini bisa menjadi gesekan seperti yang terjadi di wilayah Tanjunguncang belakangan ini.
''Saat industri galangan kapal semakin maju dan menggunakan peralatan yang canggih, ini sangat kontras berbeda dengan kehidupan nelayan setempat yang masih mengandalkan alat tangkap tradisionil padahal daerah tangkapan mereka sudah habis. Ini bakal menimbulkan kecemburuan, padahal galangan kapal menggunakan wilayah mereka,'' kata Yosep.






Tidak ada komentar:
Posting Komentar