Selasa, 06 April 2010

LATAR BELAKANG GERAKAN LSM CISHA INDONESIA&NELAYAN BATAM

Pada tanggal 2 February 2010 nelayan pulau Lingka, Kasu, Tg Bide, Bertam dan Gara bersama LSM Cisha melakukan kaloborasi penyelaman kedalam laut didepan PT ASL untuk membuktikan adanya dumping oleh industry galangan kapal.
Kerjasama ini berlanjut bahwa pencemaran dilaut Tg Uncang begitu parahnya karena itu perlu adanya advokasi dan perlindungan terhadap nelayan yang mencari besi.
Kegiatan demi kegiatan pembersihan laut di depan ASL, Naninda, dan Drydock World Pertama terus mendapat perlawanan oleh para galangan kapal karena mereka takut bahwa mereka telah melakukan pencemaran ini terbukti adanya tumpukan-tumpukan coper slag bercampur minyak didasar laut, belum lagi potongan-potongan besi yang sudah lapuk.

Puncanya saat aparat Brimob melakukan penembakan ke Nelayan di laut Drydock World Pertama rakyat mengamuk dan melaporkan hal ini ke Kapalda Kepri.
Namun disaat nelayan berjuang untuk hidup mereka, muncul statment Herman alias Awang Herman di Semenanjung TV yang menyatakan dan menyamakan bahwa :
1.Para nelayan yang menyelam mengambil besi di wilayah laut perusahaan Galangan
kapal sebagai pencuri
2.Mendukung aparat untuk melakukan tindakan keras kepada nelayan .
3.Herman alias Awang Herman baik secara pribadi maupun lembaga telah melakukan pencemaran nama baik diakhir statmen terhadap Yosep dan Rizaldy sebagai orang yang menunggangi .
Dengan adanya stamen tersebut rasanya moral nelayan yang sekarang ini sudah mampu mengalih fungsikan pekerjaan sambilan mereka untuk mengambil potongan limbah dan membersihkan lingkungan di laut serta aktif memberikan informasi terhadap pencemaran, telah runtuh kembali karena mereka disamakan dengan pencuri ayam.

Rizaldy dan Yosep sebagai pribadi yang melindungi para nelayan telah dicemarkan nama baiknya serta di fitnah karena Herman alias Awang Herman telah menyebut sebagai dalang aksi pidana.
Yang benar Rizaldy sebagai pimpinan Lsm Cisha melakukan advokasi dan perlindungan agar para nelayan tetap survive dalam menyikapi perobahan alam, sedangkan Yosep sebagai pribadi yang sangat mengagumkan karena mampu membuka mata semua nelayan yang ada bahwa kondisi perubahan bentang alam yang membuat ikan semangkin tidak ada di perairan tanjung uncang.
Low End Sensitifitas Tokoh Kepri

Rendahnya sensitifitas para tokoh yang ada di Kepri termasuk para calong gubernur dan calon wakil gubernur terhadap permasalahan nelayan di Pulau Batam khususnya di Tg uncang. Mereka bergelut dalam dahaga kekuasaan terutama pasangan tertentu, sang calon gubernur sibuk mengatakan bahwa suaminya diZolimi padahal itu tidak sebanding dengan perasaan nelayan selama bertahun-tahun ditindas oleh pengusaha shipyard, aparat Brimob, Aparat TNI, Aparat KPLP maupun tokoh tokoh yang selama ini hidup atas support para pengusaha shipyard.

Para calon Gubernur dan wakilnya selama ini memanjakan para sebagian petinggi tokoh-tokoh yang ada tanpa sedikitpun melihat apa yang dia buat selama ini kepada rakyat.
Tekanan Terhadap Rakyat Berbuah Perjuangan.
“Bertahun-tahun hidup dengan sekantung kecil besi berkarat yang diambil dari laut-laut yang ada di selat Bulang Tg uncang, bertahun-tahun para nelayan hidup dibawah tekanan aparat dan pengusaha”.

Sekarang mereka bangkit, bangkit untuk hidup, bangkit untuk menyekolahkan anak-anak mereka, bangkit untuk melawan penindasan untuk bekerja mencari sesuap nasi diwilayah laut dan pantai sepanjang pulau Batam.
Apakah mereka harus ditembaki dipukuli, dihardik, diteror dengan senjata ????
Wahai aparat bersenjata jangan lukai rakyat dengan senjatamu, Jangan lukai hati rakyat dengan bentakanmu, !!!!
Wahai Pemimpin Negeri ini, jangan kau korbankan hak azazi rakyat, lingkungan, demi sebuah kata yaitu “Investor”

Apa yang akan Kami Buat
Dengan gerakan nelayan yang menimbulkan gesekan vertical dengan pengusaha dan aparat, rasanya para pengusaha melakukan perkuatan disektor penindasan dengan dalih pengamanan investor. Terbukti dengan diperkuatnya aparat Brimob dan Angkatan Laut dibeberapa lokasi Shipyard
Atas dasar itu kami bersama masyarakat pemuda dan nelayan akan melakukan aksi-aksi boikot selat bulang dengan melibatkan 250 unit pancung, sampan, pompong dengan melibatkan lebih dari 1000 jiwa masyarakat pulau-pulau terdekat.
Dengan gerakan ini kami membuka mata pemerintah pusat dan dunia bahwa satuan kerja aparat daerah tidak memperhatikan nelayan dan lingkungan serta melakukan pressure penarikan semua aparat hokum dari shipyard yang ada serta melakukan audit lingkungan terhadap mereka








Tidak ada komentar: